Friday, 13 July 2018

TickTalk: Let's Talk About Blogging and Paid Post

Hello, 
Yes ini rubrik baru. Yang sebenernya nama rubriknya juga baru dipikira literally sedetik lalu.
Ga ada artinya, catchy aja TickTalk~~ TickTock you know... puns
So, sebenernya aku dah pernah nulis hal hal random macam ini diluar review/tutorial.
Meski ada yg masih seputar topik kecantikan. 
Seperti disini atau disini atau disini
Tapi, sekarang aku mau bahas soal blogging dan paid post alias posting berbayar.
Aku ingin membahas stigma masyarakat yaitu Sponsorship Post = Review Gak Jujur
Atau malah Sponsorship Post = Bloggernya matre soalnya dibayar.
Welp. Let's just start. But first, listen. I don't want to pick a fight with any one of you guys.
I just want to share a piece of my mind. You can share yours too in the comment sections. 
Dengan cacatan baca ampe selese, resapi, pahami, baru komentar sis. 

Okay so first of all, kenapa tiba tiba aku tergerak untuk menulis ini?
So, kemarin malam aku ngebaca stories seorang owner online shop.
Kebetulan aku dulu follow dia karena dia orangnya witty banget dan aku suka jokes2 dia dan cara dia buat ngebales bullyan orang-orang gitu. Dia nulis stories soal blogger dan vlogger dengan bayaran super tinggi. Yang harganya memang menurutku sendiri (setelah aku baca di story dia) ridiculously hella expensive. Km bisa beli sepeda motor dengan nilai bayaran salah satu vlogger tadi. Dan, dia juga sempat menyebutkan intinya MUAs are better than blogger/vlogger ans so much nicer. SO, sebetulnya menurut pendapatku ketika membaca stories dia ini yang jadi masalah adalah attitude salah satu blogger/vlogger tsb. Sehingga dia sakit hati. Yah selain harga yang menurut dia gak masuk akal karena 8-12 juta hanya untuk story!! 


Wait, actually she is talking about vlogger cuz she talks about "making videos" not writing a content but she keeps saying "blogger". Tapi, kemudian dia ngeshare sebuah list blogger/vlogger berbayar. Inisial sihhh, tapi ketebak semua karena yang disebutin famous semua cyyyiiiin. Dan salah satu di antara nama-nama yang ada di list tersebut adalah blogger yang kemudian berpindah haluan menjadi vlogger. Okay...

Hold on..

What's the difference between blogger and vlogger.


Blogger adalah orang orang yang menulis di platform blog. Seperti Blogger.com, Wordpress dst.
Kemudian vlogger sebetulnya adalah singkatan dari video blog, Vlog. That's it people.
Vlogger mostly works on Youtube. Ya karena di sanalah kalian bisa upload video yekan.
Kalo urusan konten sebetulnya ya serupa, cuma beda bentuk aja gitu.
Blog ya tulisan dan gambar, Vlog ya video...


Trus susah mana nulis atau bikin video. Tidak ada yang mudah di dunia ini kawan.
Semua orang bisa nulis karena dari TK juga udah diajari nulis, SD, SMP, SMA diajarin Bahasa Indonesia, mengarang indah. Everyone can write! Tapi problemnya.. kamu bisa bikin konten tulisan yang original dan bagus? Inget gak jaman sekolah dulu kalo disuruh ngarang mau bikin judul aja bisa sampe satu jam pelajaran??? Trus padahal cuma ngarang doang gitu tapi sekelas nilainya bisa beda-beda. Nah, ini maksud saya. Nulis mah gampang, tapi ga semua bisa nulis yang bikin pembaca nyaman. Belum lagi soal review, kamu harus bisa menjabarkan sesuatu dengan baik. Intinya bikin karangan deskriptif sebaik mungkin. Sampe pembaca tu paham ama apa yang kita tulis.

Kemudian untuk vlogger. Meeennnnn, simple aja. Gak semua orang bisa ngomong didepan kamera!!! Kemudian kita harus pinter editing. Dan ngedit itu gak sebentaaar. Bisa berjam jam karena aku sendiri ya ngalamin. Konten video pun harus menarik. Gak semua orang bisa sis. Blogger dan Vlogger itu gak ada bedanya sama konten writer atau creator yang kerja di kantor-kantor perusahaan besar. Semua ada syarat dan ketentuannya. Ya mungkin bedanya kalo blogger dan vlogger lepas macem aku gini bisa learning by doing. But still..


Oke balik ke topik awal. Dari story yang aku baca yah, intinya kadang beberapa blogger ini jadi matre. Kaya... gila aja guwe bayar segitu buat konten. Disini aku g bakalan share detail story tsb ya karena tujuanku bukan nggosip sis. Tapi dari story tersebut aku mulai sadar. Stigma masyarakat selama ini tu mengira kalau kalian bayar blogger dan vlogger ini untuk "menjilat" i guessssss..
Dan blogger/vlogger selalu ada intensi minta barang lol. Dan tujuan si mbak olshop ini tadi sebetulnya bukan cuma sekedar numpang barang di dalem videonya tapi dia mau bener2 positive dan negative review gt. Which is actually really possible for us to do. But why do brands or online shop have to pay us sometimes? Karena gak setiap blogger minta bayaran loh!! Dan gak setiap saat juga kita selalu 100% tiap kali posting dibayar. Nah, dari sini aku share Question Sticker di IG. Ya itu fitur yang sempet kontroversial cara penggunaanya di instagram itu loh say. 
Ini pertanyaan aku


Nah disini tujuan aku adalah melihat seberapa banyak dan gimana sih pengertian orang soal paid blogger/vlogger. Jawaban aku bagi jadi 3 ya karena emang ada 3 golongan orang yang jawab pertanyaan tsb. Pertama adalah non bloggers, kemudian bloggers dan selanjutnya adalah writers alias penulis yang emang kerjaannya nulis entah itu di kantor atau penulis lepas. 
So here are the non bloggers thoughts.


Non Bloggers Thoughts


Jadi ada 7 non blogger yang jawab pertanyaanku ini. Iya di gambar atas kalian liat cuma 6 soalnya gridnya gak cukup siiiis. Satunya aku taro bawah yah. So, aku bakal bahas satu per satu jawaban ini. 

1. "Tulisan untuk review sih. Tapi mungkin tergantung konten yang diangkat"

True. Memang, kami umumnya mengenakan tarif atas jasa tulisan kami. Tapi, biasanya jika suatu post/project tersebut berbayar, umumnya ada surat kontrak atau perjanjian antara blogger dan brand. Perjanjian paling simple adalah review. Yaudah ketentuan kita cuma review seperti biasa. Suka suka kita mau nulis reviewnya bagaimana. Kemudian tahap kedua adalah perjanjian untuk promosi/softselling. Nah, ini yang mungkin bikin kalian berfikir bahwa seluruh sponsored post adalah review tidak jujur. Karena memang ada perjanjian dengan model seperti ini. Jadi intinya kita disuruh bikin post semenarik mungkin dengan ending menjual atau promosi produk secara halus. Selain itu kita juga menciptakan buzz untuk brand/produk tsb. Jadi, semakin banyak blogger ngomongin produk tertentu, brand mendapatkan keuntungan marketing. So, marketing kantoran dapet gaji kenapa pas kita dapet gaji kesannya salah?


Umumnyaaaa, postingan seperti ini awalnya akan berupa cerita. Entah itu pengalaman pribadi atau orang. Bentuknya mirip story telling tapi endingnya akan menggiring km untuk membeli suatu barang. Dan sekali lagi, gak semua orang bisa bikin artikel soft selling dengan baik. Kita juga suka refisi mbokkk berasa sidang skripsi gitu. So yeah, sebetulnya kalian juga bisa mengenali artikel semacam ini dengan mudah. Dan kembali lagi, ga ada yang salah dengan bikin artikel soft selling kok. Gak semua orang bisa kan. Dan meskipun kita bikin...sampai darah bercucuran. Kalau pada dasarnya orang-orang (pembaca/penonton) gak butuh barang tsb dia juga ga bakal beli kan? So,,, tidak ada yang salah dari menerima bayaran untuk membuat artikel soft selling. Karena kita juga tidak menyakiti seseorang atau suatu kelompok bukan?

2. "Buat nulis... Serius nulis itu susah"

Iya susah, apalagi kalo gak mood. Terus sibuk. Jangankan sibuk. Yang punya kerjaan tetap selain blogging (ngantor) aja pulang kantor pengennya istirahat kan ya. Hiks. Jadi blogging juga butuh tenaga meski keliatannya cuma duduk ketik ketik di depan leptop.



3. "A. But then again harus ada pros/cons nya"

So, sister yang komen ini adalah salah satu brand yang kasi project di Instagram buat aku dan kita sekarang berteman baik banget (dia sudah gak kerja di brand tsb btw jadi kita gak KKN ini). I'm actually glad that the media understand us. Dan iya memang ada pros and cons nya. Kaya yang aku bilang tadi tercipalah sebuah buzz atas produk tertentu sangat menguntungkan brand. Tapi consnya, ga ada jaminan penjualan atau traffic naik beneran. Lah kalo audience pada gak butuh ya gak beli/make cong. Dan kita blogger ga bisa jamin berapa orang akan membeli atau menggunakan produk tsb. Yang bisa kita jamin ya audience tetap di blog maupun akun media sosial yaitu nilai pageview per month atau jumlah follower serta engagement. Itulah yang dibayar oleh brand.

Jadi semisal nih follower kamu di IG 16K, brand mengajakmu kerjasama dengah harapan setidaknya impact produk bisa sampai ke 75% follower kamu. Ini yang dinamakan engagement rate. Tingkat seberapa nilai feedback yang di dapat akunmu dibandingkan jumlah follower kamu. Dan ada feedback terutama. Sama halnya dengan blog. Pageview per month 20.000 misalnya, ya setidaknya tulisanmu bisa sampe lah ke 80% pembaca mungkin. Dengan demikian pengenalan produk akan meluas ke hampir 20.000 umat manusia. 



Nah, aku pernah lihat seorang influencer waktu itu gak sengaja lupa pake bulu mata apa karena bungkusnya dibuang gitu. Nah, dia nanya di IG story, "Kalian ada yang tau gak ini design bulu mata apa? Aku mau beli lagi tp boxnya udah dibuang dan aku lupa apa brandnya" Singkat cerita, ketauanlah brand apa itu yang dicari apa dia. Kemudian.. you guess it. That lash brand blow up!
Karena aku juga follow sis jadinya gara gara si influencer ini. Jadi aku kepo story si lash brand ini dia kebanjiran orderan sebanyak 2000 pasang lash dalam waktu...semalam. Ngimpi apaaaa tuh.

Kemudian fenomena kedua. Seorang Vlogger waktu itu bikin kaya favorit bulanan gitu. Trus dia mention sebuah produk perawatan mulai shampoo, lulur, parfum, hand body dll. Itu barang dia minta kakak dia karena baunya enak banget menurut dia. Literally dia minta ke kakaknya loh kagak dibayar ama brandnya, kagak di kirimin. And yes it happen again. Si toko perawatan tadi yang awalnya cuma punya satu olshop buat jual dagangannya itu sekarang udah punya distributor resmi di berbagai kota. Gila gak lu. Itu impact satu orang!


Contoh terkahir. Ini adalah contoh fenomena di dunia kecantikan yang semua orang tau dan kena dampaknya. Purbasari Matte Lipstick. U gak kenal ni lipen berarti u tinggal di goa. Purbasari Matte Lipstick mendadak booming. Karena banyak blogger, vlogger dan influencer yang review. Awalnya mungkin satu blogger aja. Kemudian karena bagus banget semua orang review. Makin rame dan makin rame sampe produk itu sold out di mana mana. Bahkan sampai dijual dengan harga sampai 3 kali lipat di reseller. Gila gak lu. Mulai dari anak kuliahan, ibu ibu PKK sampe sosialita semua berburuuuuu Purbasari Matte Lipstick! Gak terkecuali aku. Dan sekarang Purbasari jadi salah satu brand cosmetic paling ternama di Indonesia. Bahkan Purbasari sempat menyatakan kalau "Influencer adalah aset kami" 

See, that's called impact sister. And that's also a good example to show your gratitude. So this is why brand end up paying us. To get their products known by everyone. Tapi kembali lagi, kasus seperti ini mungkin 5:1000. Gak selalu terjadi. Tapi kalian ga akan tau juga kalo belom mencoba kan. 



4. "B kayoke sis"

Lol shistarsss, that's what most people thought too.

5. "A"

Simple dan lugas ya. A. Ini yang jawab adalah sepupu aku yang bercita cita jadi penulis/jurnalis. So, she does know that writing needs skill and effort. That's why people paid us. Karena kita tidak berbeda dengan mereka yang bekerja di dalam kantor untuk menulis sebuah konten.

6. "Jasa nulis.. Meski semua orang bisa merangkai kata gak semua tulisan itu menjual"

Nah... woke af ini mah. G usah dijelasin panjang lebar deh. Intinya demikian gaes.


7. "Lebih ke B sih mbak.. Brand approach blogger to write about their products so people would be familiar with them"

Oke so this is true. Tapi dengan catatan bukan memuja muja kok. Gak sampe seperti itu. Jadi kita menulis seputar brand ini. Kita tulis semua klaim nya. Di ending kita kasi deh breakdown, beneran gak tuh klaim nya. Tapi kembali seperti ke nomor satu. Tergantung brandnya request gimana. 

Karena aku sendiri jujur pernah nulis yang aku tulis bagus bagusnya doang. Tapi itu untuk lomba, dan sayaratnya emang itu. Ga boleh ngejelekin produk. Padahal jujur setelah aku beli produknya pengen aku buang itu produk karena jelek. Mau nangis tp udah terlanjur ikutan. Yaudah gimana lagi. But then... produk tsb aku masukin ke list "Products I Regret Buying" so I'm not 100% lying I guess.
Dan aku juga pernah ketemu brand yang di surat kontrak meminta kita untuk nulis yg bagos bagos aja. Kemudian pas aku coba.... ya emang beneran bagus. Mau gimana. Ya jelas nulis bagus wong beneran bagus ya gak?? Jadi secara tidak langsung, konsumen membutuhkan blogger sebagai patokan ketika mau membeli suatu barang. Apakah produk ini bagus atau gak, warnanya gimana, aromanya gimana dan seterusnya. Begitu pula brand, mereka butuh kita untuk "sosialisasi" soal produk atau bahkan jasa mereka.

Even Sherlock need his blogger bestfriend riteee


Nah kemudian mari kita masuk ke apa kata blogger soal pertanyaan aku tadi.

Bloggers Thoughts


Oke mari langsung kita breakdown juga ini satu satu wkwkwk. Ini semua adalah teman teman blogging aku kawan. Jadi aku kenal mereka semua bukan berarti aku nyuruh mereka jawab sesuai skenario yeee. 

1 & 3. "A dong wtf" + " A dong"
  
Dua orang ini adalah teman dekat aku huahahha jawabannya bisa mirip gitu ya say. Oke so ya benar A. Kami dibayar/pasang rate untuk jasa kami. Seperti pekerjaan jasa lainnya. Jelas?

2. "Dibayar buat effort kali ya... hahaha nulis blog lebih susah dari memahami lelaki #eh"

Lmao, true sayyy. Bener banget. Seperti yang sudah sudah aku jelaskan nulis butuh effort. Nanti dibawah bakalan ada penjelasan lebih panjang lagi. 

4. "A tapi lebih ke jasa review. Reviewnya pun ga yang receh hore hore yah. Wqwq"

Iya kak. Emang bikin review ga bisa asal lah ya. Ga boleh ecek ecek gituuu. Dan sekali lagi aku tegesin ga semua orang bisa bikin konten review dengan isi yang mendetail, gak bikin bosen pembaca, gambar menarique dan detaillll. Not everyone can do that or even have a time for that.
Karena cuma buat foto produk aja bisa encok sis. Bisa sejam kita mulai dr berdiri, jongkok, nungging sampe gaya kaya cangcorang demi ngeofoto barang yang gak bergerak padahal. 


"Halah foto doang mah gampang"
Kamu bisa pastiin produk itu jelas? Memastikan kalo tulisan di produk juga jelas dan gak blur?
Itu dasar banget loh. Bangettt. Fotoku dulu jg jelek dan tidak menarik. But then malu sendiri dong ngliatnya dibanding blogger lain yang fotonya ciamik ciamik. Kita harus berkembang gaes. Gak boleh stuck dan semua itu butuh effort. Gak semua orang mau effort buat "ginian".

Dan meskipun kita ga suka produknya dan review berakhir jelek... Kita tetep pengen bikin konten yang memanjakan mata kan. Karena aku dulu juga pembaca sebelum jadi blogger kawan. Gak boong kalo liat konten yang fotonya menarik tu emang lebih enak. Tulisannya juga. Aku udah baca ratusan blog dan setiap orang punya style menulis dan nilai plus masing-masing. Tapi, ada juga yang isi kontennya cepet bikin bosan. 

5. "Oh tentu saja B. Semakin besar bayarannya semakin memuja dan menjilat. #sarcasmtothemax"

LOL. Ini sarkastik ya tolong. Tolong. Karena kita juga kenal blogger2 yang seperti itu. Yang matrealistis kalo kata mbak olshop tadi. Adaaa. Dan kurasa ini gak cuma di dunia blogging ya. Di perusahaan kalo ada yg suka menjilat atasan juga demi apa? Uang. Lalu apakah fenomena blogger menjilat ini salah? Depends... kalo dia masih bisa jujur soal reviewnya ya artinya dia gak semenjilat itu. Dia masih jujur sama audience. Tapi kalo sampe seseorang promosiin produk abal abal atau berbahaya dan kemudian merugikan serta membahayakan banyak orang itu baru gawat!!! Ini biasanya terjadi kalau ada influencer mulai membuka paid promote yang gak disaring. Promosi situs judi poker lah, pemutih merkuri, skincare ga jelas bahannya apa. Disitu mulai salah. 

Dan kurasa audience sekarang uda mulai smart kok. Mereka tau mana yang bener mana yang salah. Tapi, kalau sampai kalian ngehujat "yaiyalah dia dibayar conng" jangan gituu. Siapa tau dia perlu mengepulkan asap dapurnya. Let's be real, we are all need money. Tinggal kamu bijak aja memilih tawaran dari brand. Kenali dulu kontraknya. 


Meski gak jarang kadang... brand suka kasi brief yg berbeda sebelum kita teken kontrak sama setelah teken kontrak. Paham? Jadi ada kasus dimana seorang vlogger mendapatkan tawaran dari suatu brand untuk review produk terbaru mereka, brand ini tidak menyebutkan apa apa hanya review saja. Kemudian si vlogger mengiyakan. Nah, setelah kontrak selesai dibuat. Brief lengkap baru dikirim! Dan ternyata di dalamnya mengharuskan vlogger untuk melayer produk tsb sebanyak 20 kali. Bayangkan. Ini produk bibir btw jadi bayangin jontornya gimana tuh dan gak cuma satu shade. Uda kadung teken kontrak lo mau blg apa. Akhirnya dilakuin deh. Dan alhamdulillah gak jontor karena lipennya beneran ringan seperti klaimnya. Nah, kasus kasus kaya gini sering banget terjadi. Di awal kontrak dibuat seolah kisi kisi itu udah lengkap. Ternyata pas teken baru ada ketentuan lain yang memberatkan. Kalo udah gini kamu ga bisa apa apa. Di dunia kerja manapun ini sering terjadi ga cuma blogging. So, why do people nitpick blogger while other workers feels the same?


6. "Jasa nulis lah! Kompensasi kalo itu gak cocok di kulit, uang beli properti ngeblog, bayar internet, kamera, domain."


Okay listen here. Duduk sini sama tante, tante ceritain wkwkw.

Dari tadi aku kan bilang yah kalau jasa kami tidak berbeda dengan jurnalis/marketer kantoran. Tapi apa pembedanya? Kami harus menyediakan semuanya sendiri. Mulai dari properti, laptop, kamera baik itu kamera digital, mirrorless atau bahkan hanya kamera hape saja, kemudian koneksi internet pribadi, properti foto seperti alas, ringlight dan seterusnya. Emang sih kita bisa pake properti simple. Kamera juga ga perlu yang mahal kalo emang punya skill buat fotonya dan juga pintar editing cahaya dst. Tapi kaya koneksi internet gitu... sebelum kosanku ada wifi ya aku ke warnet bro ngeblognya, trus beli voucher indihome, kadang pake paketan malem dibelain begadang itu semua bayar pake uang pribadi akutu. Ini sebelum aku dapat sponsorship yah. Jadi ga ada yang bayar, tapi aku senang blogging. Kita bisa berbagi bersama. Punya temen baru dst. 

Apalagi yang blognya udah pake domain pasti harus bayar per tahun. Trus uang dari mana? Blogger.com is a free website where you can write anything. Tapi koneksinya gak free kan? Wifi kosan juga bayar sebulan sekali. Sama aza. Blogging di McD.. minimal beli Cola Float lah sis. Meski cm 10rb tapi buat anak kosan pada jamanku, 10 ribu makan dua hari (masak sendiri). Makanya ketika ada brand approach dan kasih paid project tuh rasanya seneeeeng banget. Bukan karena uangnya (ya itu juga) tapi mostly kaya "Ya Tuhan akhirnya kerja ku ada yang mengakui". Gitu teman teman.

Dan kebanyakan orang berasumsi kita ikut event sana sini, ngehits katanya, pasti duitnya banyak. Nih, aku kasih sebuah kenyataan dari akun @overheardblogger di IG


So, kalo ada brand ngebayar kita buat dateng event itu sama dengan uang bensin dan uang lelah sayang sayangku. Kadang event berlangsung dari lokasi yang super jauh. Bukan berarti mereka nyogok kita biar bisa atur kita seenak jidat. Itu anggep lah sama dengan uang transport yang Anda dapat dari kantor. 

3. Writers Thoughts



Nah, dua orang ini adalah penulis. Salah satunya adalah rekan kerjaku dulu waktu aku masih seorang jurnalis online. Dan satunnya lagi adalah seoarng penulis lepas. So, gak usah aku breakdown satu satu kalian udah bisa baca dengan jelas kan ya. "Jasa tulisan karena konten blog yang diisi oleh ide penulis sendiri akan lebih masuk ke hati pembaca //yha" So, gak semua orang bisa berfikir original dan punya ide sendiri. Masih banyak blogger/vlogger dan penulis atau content creator lain yang isi kontenya nyontek alias plagiat. So, bener kan kataku g semua orang bisa. Karena ga semua orang bisa menciptakan ide original. Terinspirasi gapapa tapi kalo nyontek plek gedek ya jangan.

Kesimpulan

Oke disini kesimpulanku adalah aku cuma mau bilang. Gak semua blogger itu matre. 
Gak semua sponsored post itu artinya review gak jujur. Hal tsb tidak melulu berarti menurunkan kredibilitas seorang blogger. Blogger/vlogger bayaran juga bukan buat dihujat. Bukan berarti mereka matre, belum tentu. Gak semua seperti itu. Dan mereka dibayar untuk effort yang mereka berikan dalam setiap konten. Please refer to what Mr. Joker had to say.


Dan sponsorship juga gak melulu soal uang. Kadang kita dapat free produk in exchange to our writing. Karena review itu juga penting untuk quality control suatu produk/jasa loh. Sekali lagi aku bilang emang ada brand yang ga mau nerima kritik. Tapi gak sedikit juga brand yang senang menerima kritik karena dengan begitu mereka bisa memperbaiki kualitas. Seperti beberapa waktu lalu temen aku ada yg beli face mist gt. Trus nozzlenya rusak sehingga produk didalamnya abis gitu kaya bocor. Dia kontak brand dan brandnya dengan senang hati menerima hal tsb dan mereka juga bilang kalo ada apa apa dg produk kami bilang aja, sebagai masukan ke tim quality control dan bisa kami terusin ke perusahaan pusat di Paris. 

So here is the thing.
Not every brand is a bad and full of manipulative thing. Not every blogger who get paid are lying to you. So, stop judging everyone who get paid for their work. Blogging/vlogging world is not always filled with freebies or money. Kita juga bekerja keras dan pake effort semua ini. Menguras keringat bahkan kadang air mata. And actually, you'll notice which one is the soft selling post and which one is not. So.. please be soft to us lmao. Gak sih. Aku sadar disini aku ga bisa merubah stigma masyarakat luas. Tapi setidaknya aku lega bisa meluruskan sesuatu. Yuk deh mari kita tidur .


THANK YOU FOR READING
SEE YOU IN MY NEXT POST.
XOXO

2 comments:

  1. nah ini nih. suka aku nih sama bahasan kek gini wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkw enak emang kalo ada keributan. yuk viralkan bhahahaha

      Delete